Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Ini hari pertama gue ga pulang ke rumah sejak kerja di kantor sekarang. Mess yang sesepi itu, bikin gue merasa hidup ini seolah hampa. Padahal, empat hari kebelakang gue baru aja kunjungan industri sama 14 teman kantor lainnya ke daerah Yogya dan sekitarnya. Yang mana, hal ini perlu gue syukuri karena ga semua orang mendapakan kesempatan yang sama. Rasanya pengen selalu pulang, ternyata gue sekangen itu sama rumah, tempat dan orang-orang yang bikin gue nyaman. Di sisi lain, gue sangat menikmati kesunyian dan kesendirian ini yang sulit didapatkan di hari-hari biasa selain weekend. Maklum, karena mess cewek nyatu sama office dan kita tinggal banyakan, terkadang sulit mendapatkan pojokan untuk menyendiri. Throw back till now, entah bagaimana pun kondisinya, gue selalu ingin bersyukur dan bersyukur lagi atas apapun yang udah Allah kasih. Di dramatisir atau tidak, bukan juga perjalanan mudah untuk sampai di titik ini. Meski seringkali hidup tak sesuai rencana dan harapan. Tapi, pemasrahan dan penyerahan diri kepada Allah membuat gue tetap tenang dan tentram, bahwa Allah lebih mengetahui apa yang ada di depan, samping, dan belakang, yang manusia terbatasi melakukan penglihatan tersebut. Still, God is Good.

Tulisan ini lagi-lagi menyoal tentang refleksi perjalanan hidup yang semakin berjalan pesat dan tidak terbatasi ruang serta waktu. Begitu pergantian tahun terjadi, refleksi mengenai kontribusi dan usia, masih menjadi introspeksi utama yang kian melekat dalam pikiran. Menjajaki usia hampir seperempat abad, semakin bikin gue berpikir atas hidup dan kehidupan gue selama ini dihabiskan untuk apa. Kesalahan langkah dan keputusan di masa lalu mungkin akan terjadi pula di masa sekarang atau masa depan. Kedewasaan berpikir dan mengambil keputusan akan sangat berpengaruh terhadap tindakan yang dilakukan. Keraguan dan kebimbangan agaknya masih menjadi teman perjalanan yang menyertai, hanya semoga saja ke depannya, hal ini semakin bisa diminimalisir, sehingga pengambilan keputusan dan tindakan bisa sedikit lebih tepat.

Break through the line yang dulu coba gue lakukan, buahnya masih gue alami saat ini walaupun jadi terlihat seperti dua sisi mata pisau. Gue masih berprinsip, selama keduanya masih bisa dijalankan bersamaan, lantas mengapa kita harus memilih salah satu? Meskipun gue sedang kewalahan atas keteguhan ini, tapi proses itulah yang sejauh ini membuat gue mau untuk terus berkembang dan menjadi lebih dan lebih lagi. Beberapa kejadian mengingatkan gue bahwa ke-multitasking-an ini tidak selamanya sehat, gue hanya perlu bekerja lebih cepat dan efisien untuk menyelesaikan satu persatu agar dapat beralih fokus dari satu ke yang lainnya. Persimpangan dilematis yang beririsan, gue cuma bisa mengandalkan bantuan dan pertolongan Allah tanpa mengesampingkan ikhtiar semaksimalkan mungkin agar Allah pun ridho terhadap tujuan apa yang ingin gue capai, sehingga akan sesulit apapun perjalanannya, gue tau akan selalu ada Allah yang berjalan beriringan untuk selalu menguatkan langkah.

Kuatkan hati, mantapkan langkah. Ingat, surga tidak didapat dengan rebahan dan tenggahan.

Beberapa hari kebelakang gue mengalami ‘accident’ yang mana saat ini gue melihatnya sebagai ujian Allah membuka salah satu aib gue di depan banyak orang. Jujur, gue belajar banyak! Meskipun diri ini masih sulit menerima bahwa gue ga sepenuhnya salah, tetap ada titik kesalahpahaman di sana. Walau begitu, nasi sudah menjadi bubur. Sampai detik ini gue gabisa berhenti mikirin, meski udah ga se-overthinking di hari pertama gue syok mengalami kejadian itu. Gue sampe mual, masuk angin, muntah-muntah, pening banget rasanya pengen ditidurin aja berharap ketika bangun semua baik-baik aja. Sedalam apapun gue terus memikirkannya, gue selalu pada kesimpulan akhir, Allah lebih tahu. Entah kejadian sebenarnya saat itu ataupun sifat gue yang sebenarnya. Gue cuma bisa ngeyakinin dalam diri bahwa gue bukan orang yang seperti disangkakan pada saat kejadian. Ngomongin doi ataupun meledeknya dengan stiker-stiker yang masyhur dilakukan temen-temen gue aja gue ga berani, apalagi sampai hati mengejeknya langsung di depan orangnya. Gue sendiri menganggap itu sungguh bukan perbuatan terpuji. Apalagi beliau guru yang sangat gue hormatin, banyak sekali jasa beliau membantu gue selama masa perkuliahan. Jika Allah izinkan, gue hanya mau coba menjelaskan kronologi kejadian dan minta maaf dengan setulus-tulusnya. Cukup. Gue berharap ke depannya baik-baik aja. Aamiin ya rabbal alamin


Kenapa gue?

Penyesalan selalu datang belakangan. Tapi gue gamau rasa sesal itu melebihi segalanya. At the end, Allah juga yang nguatin gue untuk tidak khawatir dengan apapun yang akan gue hadapin di depan. Bismillah, laa haula gue siap tanggung risikonya. Allah tahu gue mampu, Allah tahu gue bisa. So, jangan sampai kesalahan kemarin lantas menghalangi lo untuk melangkah maju, menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Jauhilah kami dari buruk prasangka dan penyakit hati. Aamiin. Gue juga ga berhenti-berhentinya berterima kasih untuk mereka yang support gue, mendoakan gue, memberikan kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Yuk bisa yuk baik bareng-bareng. Luuvv u all.


Pernah suatu ketika, seorang adik tingkat tiba-tiba menghubungiku dan bertanya akan suatu hal. Aku lupa apa yang dia tanyakan di awal, tapi yang kuingat setelahnya adalah pertanyaan-pertanyaan random beruntun layaknya konsultasi wkwk dan aku menikmatinya. Selalu menyenangkan bagiku dapat berbagi dan menjadi salah satu yang dipertimbangkan masukannya. Dalam tengah sesi waktu itu lantas dia berucap, “kayaknya teteh ga pernah insecure ya?” lalu jawabku tertawa. Menertawai diri bahwa aku tidak seperti yang dia sangkakan. Layaknya manusia dan wanita pada utuhnya, aku pun bisa rapuh dan jatuh, hanya saja mungkin aku tidak menampakkan itu di khalayak ramai. Dulu aku pernah berada di tahap begitu peduli akan pandangan dan penilaian orang, takut dinilai buruk. Jujur. Aku tak munafikkan hal itu. And I think everybody been there. Tapi, seiring berjalannya waktu, pengalaman, dan kedewasaan, sedikit demi sedikit aku belajar menjadi orang yang bodo amat akan ‘how people look and staring at me’ dan fokus sama perbaikan diri sendiri aja. Sehingga setelahnya, setiap melakukan sesuatu, tidak pernah lagi berpikiran bagaimana orang memandang dan menilai. Allah tahu. Itu aja, cukup.

 

Keluarga, teman, sahabat, rekan bisnis, dan orang-orang yang melingkupi dalam aktivitas sehari-hari bukanlah orang yang sebenarnya kita kenal. Mungkin mereka jasad yang sama sepanjang waktu. Tapi hati, jiwa, ruh yang mengisinya bisa saja berbeda. Mereka tetaplah orang yang sama berdasar karakter genetisnya. Namun, mereka dapat berubah menyesuaikan lingkungan yang disinggahinya. Maka, menurutku kurang tepat jika kita merasa bahwa kita paling tahu dan kenal akan seseorang, even pasangan sendiri. Karena sejatinya manusia dinamis, dapat berubah-ubah, maka akan ada saja hal baru yang mungkin kita temukan dari orang-orang terdekat sekalipun. Serta, jangan pernah menaruh harap berlebih pada makhluk, karena hanya ada kecewa didapat. Berharaplah hanya kepada Allah, Dzat yang Maha Kekal.

 

Long story short, setelah sesi itu dia menaruh jawaban-jawabanku pada statusnya, mungkin itu pengajaran yang layak untuk orang dapatkan juga. Alhamdulillah..

 

Dalam realitanya, aku pun orang yang berperang, berjalan beriringan dengan sesuatu yang kita anggap ‘insecurity’. Sampai akhirnya aku melihat dan memahami, everybody has their own insecurity. Tak terkecuali orang yang kita sebut idola. Tapi coba selami lebih jauh, introspeksi dan muhasabah, ke-insecure-an itu hadir menurutku karena kita kurang bersyukur. Bersyukur untuk segala hal yang Allah kasih untuk kita. Again, manusia kadang berfokus pada hal yang tidak dipunya, pada sesuatu yang memang Allah tidak menakdirkannya untuk kita mau bagaimana pun kita berusaha menuju itu. That’s not your track dude! Maka mudah saja hidup, tidak ada rasa khawatir dan gelisah dengan rasa syukur dan ikhlas jangan lupa.

 

Sikapi segalanya dengan positif dan rendah hati agar hidayah dan pertolongan Allah selalu hadir menyapa. Tidak ada seorang pun yang dapat menjamin dirinya akan selalu baik, maka kita perlu untuk selalu berdoa meminta diistiqomahkan dan tidak Allah belokkan lagi pada kejahiliyahan. Semoga Allah senantiasa genggam hati kita dalam rahman rahim-Nya.

 

Yuk bangkit lagi, semangat lagi, syurga tidak didapat dengan rebahan dan tenggadahan. Aku tahu kamu kuat, aku tau kamu bisa. Luv more!

Hari ini tepat setahun atas salah satu peristiwa luar biasa dalam hidupku. Peristiwa luar biasa yang cukup banyak mengubah hidupku.

 

Dulu sering ku bertanya, apakah ada pria yang benar-benar bisa mencintai seorang wanita ataupun sebaliknya. Mungkin kesangsian ini muncul karena lingkungan tempatku tumbuh tidak aku dapati sosok figur bagaimana seharusnya lelaki itu terkhusus dalam Islam. Aku tumbuh menjadi seorang wanita kuat dan mandiri, yang mau tidak mau menuntutku untuk serba bisa. Hingga secara tidak langsung, bersamaan dengan proses itu kepercayaanku akan sosok lelaki terkikis. Aku tidak takut untuk banyak terlibat dalam kegiatan yang mengharuskan untuk berada di sekitar para lelaki, karena selain aku mempercayakan kemampuanku menjaga diri, ternyata ketidakyakinan ku kepada lelaki pun cukup memengaruhi. Di lain sisi, aku juga paham bahwa tidak ada cinta sebelum pernikahan. Maka aku akan selalu defensif terhadap jenis perasaan cinta yang datang. Meski masih seringkali ku terlena meladeni, tapi pada akhirnya akal ku menang melawan rasa yang belum saatnya itu.

 

Ujian tentang rasa ‘cinta’ akan selalu ada menghampiri. Entah karena memang begitu alamiahnya, atau mungkin seiring bertumbuhnya usia dan pemahaman, akan ada saatnya ketika diri sudah tak mampu membentengnya. Hanya saja perihal itu aku pun tak yakin, karena seringkali manusia tertipu oleh muslihat syaiton. Aku hanya selalu yakin dan berdoa bahwa jika memang benar saat itu tiba, Allah sendiri yang akan berikan keyakinan. Perasaan akan sebuah keteguhan hati yang belum pernah kita rasakan sebelumnya.

 

Sama seperti kisah sebelumnya bahwa hanya menyoal waktu kisah ini akan berlalu. Tapi aku hanya merasa tingkatan kali ini lebih sulit, lebih sakit dan menyiksa. Layaknya ujian ranah akademis, ujian dalam kehidupan pun ada tingkatannya. Aku baru merasakan ujian perasaan hati yang seperti ini. Ya Allah, kaulah yang Maha membolak-balikan hati. Lepaskanku dari segala belenggu rasa yang belum saatnya ini serta teguhkanlah keyakinanku atas pilihan terbaik dari-Mu. Hiasi hati dan diri hanya untuk mengingat kepada-Mu. Memantaskan diri sebagai hamba terbaik-Mu. Berkarya dan berkontribusi untuk Islam.

 

Lekas pulih wahai hati...

Lekas pulih wahai jiwa...

Lekas pulih wahai jasad...


Now a days self quarantine become a popular word isn’t it? Semuanya melakukan karantina diri dengan #dirumahaja sebagai langkah pencegahan penyebaran Covid-19. Banyak pula wilayah yang sudah menerapkan PSBB ditambah larangan mudik atau pulang kampung dari pemerintah. But di sesi tulisan kali ini gue bukan mau bahas what’s Covid-19, how to prevent, how to make your day productive or anything else, not about that stuff. Yang mana gue kira bisa dibilang kita eneg sama semua berita all about Covid-19 baik di media massa ataupun sosial media. Buat lo yang wise and calm, mungkin itu jadi asupan wawasan lo, aware about situasion that happen bahkan sampai bisa take action. Tapi buat sebagian orang, yang tingkat anxiety nya tinggi konsumsi media dewasa ini, yang ada malah nambah kecemasan dan ketakutan tentang situasi yang gatau kapan akan berakhir.

Kali ini gue mau tarik ulur kisah dulu sama sekarang, yang mana gue kira nothing much change, but as always there are lessons that we (can) get. Insyaa Allah.

Ngalamin masa-masa sekarang ngebuat gue flashback kurang lebih tiga tahun ke belakang, masa di mana gue memilih #dirumahaja. Kalau dulu gue di rumah atas pilihan dan kemauan gue, saat ini itu bukan pilihan tapi keharusan. Intinya gue merasa kembali ke masa di mana mostly gue menghabiskan waktu dengan di rumah aja. Bedanya, dulu begitu jenuh, seminggu sekali gue masih bisa refreshing pergi ke tempat yang belum pernah gue datangi, bisa sendiri atau gue minta temenin ade gue. Tapi sekarang, definisi di rumah aja yang bener-bener di dalam rumah gabisa keluar kalau emang ga ada kebutuhan mendesak. Paling gue keluar itu kalau anter paket, ke atm, atau belanja kebutuhan rumah. Sisanya di rumah dengan berbagai aktivitas yang mana sebisa mungkin gue tetep berusaha untuk menyibukkan diri. Menyentuh kembali sudut-sudut kamar, melakukan kembali hobi-hobi yang tertunda, dan ragam aktivitas lainnya yang gabisa gue sebutin semua dan tak jarang memberikan kesan dan pengalaman berbeda. Karena akan selalu ada awal untuk setiap hal bukan?

Dulu gue merasa hari demi hari terasa berat untuk dilalui, pikiran berkecamuk dengan segala kata-katanya yang membangun ataupun menjatuhkan. Keinginan dan harapan di pikiran yang rasanya sukar untuk terwujud melihat realita yang ‘gue cuma di rumah aja with no money, no education, no job dan no no lainnya’ setiap harinya selalu dipenuhi dengan ketakutan, kecemasan akan masa depan. Melakukan aktivitas harian yang dirasa ga bermanfaat dan selalu merasa dibatasi kondisi. Penyalahan atas kondisi yang tak berpihak.

Tapi gue gamau lantas berdiam diri dengan terus meratapi dan ga berbuat apa-apa. Justru dengan gue semakin diam dan ga ngelakuin apa-apa disitulah letak kehancurannya. Temen lo atau orang-orang di luar sana juga terus bergerak, beraktivitas. Ibarat kata orang udah sampai Perancis lo masih di Indonesia. Pelan-pelan gue coba benahi, ninggalin hal-hal yang emang gue gasuka atau gamau lakuin, don’t lie to yourself. You don’t live to fullfil people’s want or people's expectation. Stop it! Live for yourself. Live your life. Don’t waste it. You only live once and make it useful. Lo bakal maksimal berguna kalau lo ngejalanin bidang yang emang lo suka. Mau sesusah apa pun, bakal lo hajar karena lo suka. Sama halnya lo suka sama seseorang, sometimes you don’t need any reason. Just because.

Terima. Acceptance. There’s no other solution before you do it first. Meski sulit, bukan berarti gabisa. Walau mungkin nantinya penerimaan ini akan berada di tahap akhir, setidaknya jangan sampai biarin diri lo terhanyut sama suasana yang ada. Solusi yang mungkin sebenernya udah ada depan mata jadi samar karena lo sibuk liat kanan-kiri, liat orang lain udah gimana. Udah, mulai sekarang fokus sama diri, urus diri sendiri. Kalau lo udah siap buat liat dunia luar, membuka diri pada lingkaran yang lebih besar, lo mulai deh punya program buat bantu orang. Awalan orang-orang terdekat lo, terus makin lama tingkatin dah itu kapasitas diri dengan ningkatain kapasitas wadahnya juga. Minta selalu petunjuk dan bimbingan Allah. Yakin deh, rencana Allah selalu luar biasa dan tidak disangka. Kitanya jangan berhenti ikhtiar dan berdoa. Let Allah do the rest. Oke? Lanjut.

Gamau kondisi dan situasi menjadi penghambat, oke gue mulai menerima segala kekurangan dan kelebihan diri. Gue terima kondisi, keluarga, apapun itu. Self healing pertama. Terus gue mulai melihat sekitar, apa yang bisa gue lakuin, setidaknya biar gue produktif dulu deh punya kegiatan. Ya masih setengah suka gapapa. Oke, buku. It means gue harus baca. Dari rentetan buku bokap, gue cari yang in situation dan menarik buat gue baca. The first book is The 7th Habbits of Highly Effective People. Awalan gue sulit memahami isi buku ini, tapi gue coba terus baca. Gue yakin ada maksud kenapa gue harus baca ini buku. And finally this is become the book that change everything. Setidaknya gue bisa bilang itu sekarang. Gimana semua itu berubah dari mindset dan pola pikir. Self healing kedua. Terus gue cari-cari bacaan yang bisa tune in buat balikin self confidence gue. Lanjut ke buku The Magic of Thinking Big. Buku Word Power Made Easy buat gue belajar inggris dan buku-buku lainnya. Self healing ketiga.

Selanjutnya gue mulai aktivitas lain yang bisa dilakuin dengan fasilitas yang ada di rumah. Oke, wifi. Akhirnya gue log in, bikin banyak akun di app ataupun website belajar inggris gratisan. Gue belajar dari youtube, website, ebook, nonton TedX, dan media sejenis lainnya. Aktif lagi menulis, upload film dan bikin video lirik di youtube, gabung berbagai survei berbayar dan serabutan freelance di internet. Akhirnya gue mulai dapet celah dari mana gue bisa menghasilkan. Self healing keempat.

Akhirnya gue menjadi tersibukkan dengan ragam aktivitas yang gue create sendiri. Di sini gue mencermati for knowing myself better. What I like, want, how I want to be in future. Sampai akhirnya gue banyak membuat keputusan sendiri, yang di sana ga ada campur tangan orang lain. Awalnya mungkin terdesak situasi yang gue gabisa maksa orang lain buat ngerti kondisi gue that I’m really suffer inside. Di sekitar juga menuntut mau ga mau gue harus bisa ngertiin mereka. Oke, bismillah I choose me, I choose my way, and I’m full responsible for what happen in the future. No matter how it is setelah keputusan yang gue buat. Gue bakal ngehargain dan bertanggung jawab penuh. So, here I am. Self healing kelima.

Begitu pun saat ini, semua terasa tiba-tiba, mendadak, tanpa permisi, kita diminta untuk sedikit banyak mengubah kebiasaan, pola rutinitas, atau bahkan keseluruhan kehidupan. Suatu hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Beberapa dari kita mungkin merasa hal-hal yang dilakukan saat ini membosankan, tidak bermanfaat bagi jenjang kehidupan ke depan. Tak apa, wajar. Aku pun begitu. Dulu. Tapi percayalah, bahwa hal-hal besar di masa mendatang pasti berawal dari langkah-langkah kecil saat ini. Tetap beraktivitas, tetap berikan yang terbaik pada setiap hal yang ditekuni. Cobalah rehat sejenak dari kehidupan maya dan nikmati dunia nyatamu. Mungkin ini saatnya menghapuskan sekat-sekat pemikiran dan sekat-sekat antar ruang untuk kita lebih mengenali diri dan sekitar. Bukankah sejatinya ketidakpastian itu sunnatullah? Maka berlepas dirilah dari segala kefanaan dunia.

Bersabarlah pada kondisi sulit dan bersyukurlah pada kondisi senang. Mungkin Allah sedang ingin bermesraan dengan hamba-Nya. Ada pelajaran yang ingin Allah sampaikan kepada kita. “Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang” (HR. Al-Bukhari). Maka manfaatkanlah waktu luang sebelum waktu luang memanfaatkanmu. Waktu itu gratis, tapi tak ternilai harganya. Kamu tidak bisa memilikinya, tapi bisa menggunakannya. Kamu tidak bisa menyimpannya, tapi bisa membelanjakannya. Sekali kamu kehilangan itu, maka kamu tidak akan pernah bisa mendapatkannya kembali. Sampai bertemu the new you in the near future. What will you be?

Baik buruk perubahanku tak akan kau sadari
Kita berevolusi
Bila kita ingin tahu seberapa besar rasa yang kita punya
Kita butuh ruang
Pergi melihatku menjelang siang kau tahu
Kita tetap butuh ruang sendiri sendiri
Aku ada di mana sore nanti
Tak pernah sekalipun ada malam yang dingin
Hingga aku lupa rasanya sepi
Tak lagi sepi bisa kuhargai
Untuk tetap menghargai oh rasanya sepi

Ayo tebak itu apa wkwk. Siapa juga yang bacanya sambil nyanyi? Hayoo ngaku.. yang belum tau search sendiri aja yaa.. Oke somehow lirik itu ngingetin gue zaman kos dulu. Ya ga lama sih pas nya tiga bulan aja. Tapi at least gue sempet ngerasain namanya ngekos.

Pertama gue mau appreciate dulu orang-orang yang berani merantau dan memutuskan untuk survive di kampung orang yang pasti harus banyak melakukan penyesuaian dari banyak aspek. Congrats karena menurut gue itu udah nilai plus buat diri kalian yang mana kalian juga sebenernya bisa punya pilihan untuk tetap di zona nyaman kalian dengan tidak melakukan itu. Sampai ada peribahasa yang bilang kalau orang sunda itu susah buat ninggalin tanah kelahirannya sendiri. Bener ga tuh? wkwk tapi coba aja kalian liat orang sunda itu kadang satu keluarga besar itu bisa ada dalam satu komplek yang sama cuma selang rumah atau beda blok aja. Beda sama orang jawa atau batak yang kalian ibaratnya bisa nemuin mereka hampir di seluruh wilayah Indonesia. Tapi ya balik lagi ke orangnya masing-masing toh banyak juga orang sunda yang merantau nun jauh hingga ke negeri seberang hehe.

Kedua sebenernya gue mau nyeritain sisi lain yang mungkin ga banyak gue ungkapin sebelumnya tentang pilihan ngekos gue yang cuma sebentar itu haha. Jadi gini ya my beautiful soul and mind yang mungkin nanti baca tulisan gue. Ruang sendiri itu nama yang gue kasih untuk sepetak kamar kos yang tidak begitu besar karena low budget dan (gue yang kecil + sendiri) jadi ukuran segitu cukuplah ya. Jangan tanya gue ukurannya berapa karena lupa. Yang pernah melipir ayo ingat-ingat.

I have my private place that no one knows what I'm doing and I'm planning about self. Yeay! That's what I want since long ago. I always dream of being apart from my 'old life' into 'new one'. I don't know it sounds ridiculous or not. But that's me wkwk. Tapi sampai akhirnya gue tetep diterima kuliah di Bandung, terus gue bisa apa? Yasudah bismillah percaya, yakin, dan husnudzan sama Allah. Dan waktu itu gue udah komitmen diri, apapun keputusan Allah yang menjadi ketetapanNya, bismillah ini pasti yang terbaik menurutNya. Cause I don't want being 'sotoy' what happen next with my own life yang sebenernya punya Allah juga. Dan sejak saat itu gue sedikit banyak paham tentang apa itu minat, bakat, kemauan diri, dan kemampuan. Sampai pada akhirnya gue berkesimpulan, Allah tau kemampuan gue makannya menempatkan gue di Ilmu Ekonomi dan Keuangan Islam (IEKI) dan kenapa ga di jurusan lain atau kenapa ga di kampus lain tapi di UPI. Fyi karena di Bandung sendiri dulu itu ga banyak yang mau masuk UPI karena framingnya yang kampus pendidikan dan nanti jadi guru. Terus istilahnya kek gampang aja buat sekolah-sekolah tertentu buat keterima di UPI. Jadi istilahnya mereka gamau masuk yang gampang aja gitu. Including me haha. Meskipun ga terucap tapi Allah tau isi hati ya, gue yang gamau masuk UPI ujung-ujungnya masuk UPI juga hahaThat's the beauty of Allah's plan. Trust me it works wkwk.

Gue itu segitunya jaga privasi sampai ga nyaman kalau orang lain tau apa yang menjadi keinginan atau harapan gue. Gue tipikal orang yang suka menulis atau membuat kamar gue rame, warna-warni, entah itu quotes, planning, hafalan atau board kosong yang bisa tulis hapus saat itu juga yang menurut gue it'll increase my spirit setiap kali gue liat atau baca itu. Dan sebahagia itu gue ketika bisa ngekos dan bisa jadi sekreatif yang gue mau without people knowing it. Tapi ya namanya juga kosan pasti ada aja yang berkunjung, tapi gue ga lantas nutup itu semua biar orang gabisa liat wkwk. Iya apa adanya aja, gue udah ga se insecure itu ko wkwk santuy. Kan bisa jadi juga pas orang lain liat jadi ilmu baru yang nambah pahala atau bantu meng-aminkan. Kan who knows so it's oke no problem. Yuk jadi kapan main ke rumah? wkwk

Ngangenin si ya masa-masa kesendirian itu.. tapi ya namanya juga fase kehidupan. Sekarang lagi ditakdirkan kembali ke rumah, yang mana Allah pasti punya maksud dan rencana yang tak kalah indah insyaAllah. Kitanya aja mau nurut atau ga. Dan alhamdulillahnya setelah-setelahnya Allah titipkan amanah di Bandung yang tidak bisa ditinggalkan. Terakhir titip pesen (self reminder juga) untuk yang sekarang sedang menjalani masa kesendirian itu, kalian mungkin bisa bebas ngelakuin apa yang kalian mau dan suka tanpa orang tua tau. Kalian punya banyak pilihan keputusan hidup yang hanya kalian sendiri punya kehendak menentukan. Tapi satu, Allah selalu tau apa yang kita lakukan, sekalipun baru terlintas di pikiran. Pilihlah keputusan-keputusan yang menghadirkan keridhaan Allah, yang menghadirkan kebaikan dan kebermanfaatan. Jadilah pribadi-pribadi muda yang Allah nantikan kehadirannya di akhir zaman. Sulit? Pasti. Tapi bukan berarti tidak bisa. Pelajari Islam, pelajari sejarah, bismillah semoga Allah selalu bukakan hati kita untuk menerima kebenaran. Semangat muda, semangat berkarya! Menjadi baik itu baik.

Udah lama rasanya gue ga nulis di blog. Jujur kangen haha. Orang kalo kangen sama doi ini sama nulis wkwk yaudahlah ya nanti juga ada saatnya gue kangen sama doi. Doain yup aamiin. After everything dari gue yang so sibuk sampe mager jadi kaum rebahan akhirnya gue sempatkan untuk menulis sekarang.

April nanti umur gue 22 tahun. Hm actually I don't know what I'm feeling knowing that I'm getting older. First of all pastinya gue bersyukur masih dikasih umur yang gue artikan gue masih dikasih kesempatan untuk memperbaiki diri, berbakti sama ortu, dan bermanfaat bagi seluasnya-luasnya semesta. I'm not 'really happy' nor be sad ya b aja. Karena makin sini gue makin sadar kalo umur itu only counting numbers. That's it. Dan sebenernya bertambah umur lo di dunia it means berkurang umur lo di akhirat. And the meaning of increasing age can be different every person because of some reasons. Dari apa yang gue alami dan pelajari, salah satunya bisa karena all what body consumption it makes who we are today. Not only food but also mind. Dan justru menurut gue itu poin pentingnya. How we react for every situation that happen. I still remember my principal's quote in junior high school. It's like his quote that he always said in ceremony. You are what you think. Dulu gue ga ngerti maksudnya apa. Tapi makin sini lambat laun gue bisa memahami maksud dari kalimat itu. And that's what shape and define us. I hope you too guys. Kalo belum, berarti lo masih kurang 'main' masih kurang 'explorating' dan lo belum kenal bahkan belum nemuin diri lo yang sebenernya.

Sesuai sama judul yang gue tulis, akhirnya di umur yang mau 22 ini gue mulai nyaman buat ngomongin soal jodoh and yup pastinya pernikahan. Dari dulu kebanyakan orang selalu mandang gue orang yang kalem, dewasa, anggun, dkk nya yang cewe banget. Gue ga nyangkal sih, karena most of them gue rasa bener. Walaupun ada beberapa yang gue kurang setuju karena deep in me gue ga ngerasa itu. Tapi ya penilaian orang perlu kita hargai juga. Dan sometimes we can't see what people can see. Jadi ya itu penyeimbang lah ya.. Dan karena kebanyakan sifat itu akhirnya orang suka bilang kalo gue termasuk orang yang bakal nikah cepet. Tapi sayangnya gue ga ngerasa gitu hehe. Bukan gue gamau nikah cepet, tapi ya belum aja. Dan di sini gue bakal cerita, buka-bukaan soal hal ini karena ya menurut gue udah tepat aja momennya. Semoga ada pelajaran yang bisa diambil walau sedikit.

Dulu gue termasuk orang yang anti pati kalo udah ngomongin soal laki-laki, pacar, jodoh, dan terakhir pastinya pernikahan. Even itu circle terdekat gue. Gue si ngerasanya gue ambivert yang condong introvert. Walaupun kalo tes-tes psikotes lebih seringnya menunjukkan kalo gue ekstrovert. Ya apalah arti test-test itu yang penting Allah lebih tau kita lah ya (pembelaan tapi bener kan haha). Jadi gue suka gamau atau bahkan orang ga boleh tau apa yang gue rasain. Termasuk rasa dan perasaan sama lawan jenis eaaa. Ya gue mikirnya cukup Allah sama gue aja lah yang tau. Itu urusan kehidupan pribadi gue kek ngapain juga gue umbar dan ngapain juga orang perlu tau. Gitu lah ya semoga mengerti hehe. Sampai temen SMP gue dulu bilang, "oh bil ternyata lo bisa suka juga sama cowo". Dalam hati gue "hellow gue juga normal kali ya bisa lah wkwk" tapi yang keluar "yaiyalah gue juga normal". Saking gue ga pernah punya concern ke situ saat itu. Dan gue inget kalo lagi sesi curhat dulu zaman-zaman mentoring waktu SMP, saat temen-temen yang lain curhat masalah cowo, gue sendirian yang curhat masalah kesibukan dan akademis wkwk. Cielah gaya bet gue dulu sibuk belajar, organisasi, main sama temen, baca buku, crafting, apapun pokoknya sampe ter-mindsetting ga boleh ada waktu sia-sia yang ga ngehasilin hehe dan yang terpenting I'm happy for that.

#buatyangtautauaja sampe ga pekanya gue, zaman-zaman ngalamin cinta monyet kalo orang bilang wkwk jadi ada cowo nih deketin gue, ya gue santuy aja temen deket boy laki-laki. Karena sebelumnya gue ga pernah gitu punya temen main laki. Terus-terus kita nyambung makin intens tu smsan. Tapi ya gue ga ngerasa gimana-gimana karena ya emang gue gamau aja kalaupun sampe pacaran. Fokus gue tetep sekolah, akademik. Iya singkat cerita gue ditusuk tuh dari belakang wakakak. Dia jadian sama temen gue ya waktu itu bisa dibilang deket. Karena kita satu mentoringan juga. Gue ga nyangka juga si ternyata doi berani ambil langkah buat pacaran tapi ya orang kan dinamis who knows. Lanjut

Begitu pun masa SMA. Ada aja warna-warni itu. Tapi SMA ga sekompleks itu karena ya gue lebih bisa menepis dan makin mature kali ya. Ditambah posisi gue waktu itu yang mau ga mau jadi 'teladan' lah. Gue yang gamau, ditambah kondisi itu jadi makin ga mungkin. Alhamdulillah.. Allah masih menjaga dan melindungi.

Next di masa kuliah sekarang. Yuhuu warna-warni nya lebih beragam dan levelnya juga lebih tinggi wkwk.. Kalo dijembrengin lagi bakal berepisode-episode kali ah ni cerita wkwk. Drama of life guys no problem. Sampai pada akhirnya.. setelah apa yang gue lalui.. gue belajar dan sedikit demi sedikit untuk mau dan lebih terbuka sama sekitar.. not for people appreciate and understand me, but for healing myself. Belajar untuk mengungkapkan apa yang dirasakan. Berbagai macam emosi dan rasa. Tapi tetap berbatas untuk menjaga perasaan orang lain juga. Jangan sampai kita bercerita, meluapkan segala emosi, tanpa menimbal balik kondisi orang yang kita ajak cerita. Bisa jadi, dia sedang dan bahkan mengalami kejadian yang lebih luar biasa dan kita tidak empati akan hal itu. Karena kita gatau seberapa besar kadar ujiannya. Terkadang kita menyamaratakan standar penilaian kita terhadap orang lain. Padahal bisa jadi yang kita anggap mudah, sulit bagi orang lain begitupun sebaliknya.

Tolong, maaf, dan terima kasih, tiga kata yang terlihat dan terdengar simple, tapi nyatanya susah untuk diucapkan dan diungkapkan. Padahal, jika tiga kata ini terbiasa diterapkan, insyaAllah kita akan merasakan part ketenangan hidup yang sering Allah sebutkan.

Berdamai dengan diri sendiri, lingkungan, orang tua, apapun yang kita dekat bersentuhan dengannya, lingkaran pengaruh kita, berserah dan berpasrah kepada Sang Pemilik hidup maka akan kita dapati kehidupan yang menentramkan dan menyejukkan, senantiasa dipenuhi rasa syukur bagaimanapun kondisi menerpa. Begitupun perihal jodoh, Allah tahu saat yang tepat kapan itu diwujudkan. Tidak terlalu cepat, tidak juga terlambat. Life isn't a race. Itu semua dapat diikhtiarkan dengan seberapa cepat kita memproses diri menjadi lebih baik dalam setiap tahapan kehidupan. Coba cek lagi, introspeksi kembali barangkali ada hal lain yang menunggu untuk diselesaikan terlebih dahulu. Termasuk menemukan 'jati diri' yang mendekatkan kita pada Sang Pencipta. Jangan berharap melangkah ke jenjang yang lebih serius, kalau urusan yang berkaitan dengan diri sendiri saja kita belum mampu menyelesaikannya. Bagaimana nanti mengurusi hal yang lebih besar dan kompleks.

Menikah bukan hanya sekedar memenuhi nafsu karena naluriah cinta manusia atau karena 'rules of life' dan umur yang kian menua. Meskipun menikah muda adalah sunnah yang lebih disarankan, tapi jangan sampai menikahnya kita karena sudah 'tidak sabar meluapkan rasa'. Ingat kembali ke niat. Iman, ilmu, amal. Dan memang hukum asal menikah itu sunnah, walau dapat berbeda dan berubah menjadi wajib, sunnah, mubah, makruh, ataupun haram bergantung pada kondisi masing-masing orang. Perlu diingat pula bahwa 'rasa suka kepada makhluk' ada diurutan kedua (lupa ini materinya apa) tentang hasrat atau rasa yang mungkin harus dipenuhi. Karena nomor satu nya harus tetap karena Allah. Kan Allah pula yang membolak-balikkan hati ye ga? Jadi ibaratnya mudah juga buat kita jatuh cinta sama siapa saja. Maka labuhkan lah kepada orang yang tepat uhuk. Makannya mungkin istilah bangun cinta itu lebih tepat karena dilakukan setelah menikah. Kalo jatuh cinta terus we jatuh terperosok jadinya dosa bukan pahala hm wkwk. Kurleb gitu lah ya nanti kita ubek-ubek lagi tentang materi yang tadi w lupa.

Menikah merupakan ibadah, menyempurnakan setengah din dan akan menjadi ibadah terlama. Merupakan satu perjanjian, ikatan suci yang dalam Al-Quran Allah bahasakan Mitsaqan Ghaliza. Maka memilih pasangan akan ikut menentukan masa depan termasuk masa depan hingga ke akhirat. Ada ilmu dan bekal yang perlu dipersiapkan hingga masa itu tiba. Ketika Allah benar-benar tahu kita siap. Jangan menuntut dan mengharapkan jodoh yang a, b, c, tapi kita tidak berusaha juga menjadi a, b, c. Jodoh itu cerminan diri, maka waktu terbaik dalam menunggu adalah dengan terus memperbaiki dan mendekatkan diri kepada Sang Pemilik hidup. Karena kita tidak tahu, mana yang lebih dahulu menjemput, jodoh ataukah kematian. Wallahu'alam.

Ada apa dengan hari ini? Itulah pertanyaan yang muncul di kepala begitu gue nyampe di tempat gue berada sekarang. M*D Soetta. Gue terdampar di tempat yang nun jauh dari rumah. Sendirian.

Hari ini angkot demo. Dan ojek online sepertinya enggan pula menerima order. Walaupun tadi pagi gue sempet coba order dan dapet, tapi drivernya minta cancel karena takut lama nunggu karena dia kebelet pengen ke toilet. Alhasil, gue seperti biasa langsung beraksi bangunin kakak gue. Awalnya dia suka susah, kalau lagi baik, gampang, kalau lagi susah, harus dikasih alasan jitu biar dia mau gerak bangun buat anterin gue. Back to the topic.

Jadilah gue lantung-lantung di pinggir jalan nunggu angkot yang gatau bakal lewat atau ga sembari terus merefresh order ojek online yang selalu dengan tulisan "Sorry, we didn't find you a driver". Nah loh kalimatnya aja sampai hapal :(. Setelah kurang lebih gue nunggu selama satu jam, akhirnya gue mutusin nelepon orang rumah buat jemput yang sama dengan gue harus menunggu sekitar satu jam lagi :(. But, it's ok setidaknya jelas akhirnya gue bisa pulang. 

Daripada gue nunggu pinggir jalan, akhirnya gue jalan dan nemu ini tempat. Setidaknya ada tempat cozy buat nunggu walaupun gue cuma beli satu chicken wrap sama teh botol karena pengeretan lebar buat ngeluarin duit mahal untuk sekedar ayam sama nasi :(.

Begitu gue nyampe entah kenapa gue cukup merasa 'it's not my place'. Lihat sekitar, orang-orang dengan gaya dan dunianya sendiri cukup membuat gue berpikir buat orang seperti apa tempat ini sesungguhnya. Tapi harusnya ga begitu sih. Lihat jalanan Kota Bandung yang kian ramai dan gemerlap, membuat kota ini hampir mengikuti jejak langkah Jakarta ataupun New York, yang dijuluki kota yang tak pernah tidur. Sometimes kalau lagi gini gue jadi suka kangen Bandung zaman dulu. 

Hiruk-pikuk kotanya yang kini makin dihiasi dengan kemacetan. Membuat siapa saja harus bersabar dan mencoba berdamai dengan waktunya yang harus rela terbuang di jalan. Orang-orang suka menyebutnya 'tua di jalan' saking lamanya waktu yang harus dihabiskan di jalan. Contoh gue, jarak kampus-rumah jauh. Naik motor ya kurang lebih bisa ditempuh dalam waktu satu jam. Tapi masalahnya gue naik angkot. Yang mengharuskan gue menempuh jarak satu setengah jam minimal tanpa macet. Kalau macet, bisa nyampe dua jam cuma di jalan doang. Waktu yang menurut gue terlalu mubazir untuk sekali perjalanan. Tapi apalah daya sebelum gue bisa motor atau (mungkin kost) gue bakal terus bertarung dengan macetnya Paris Van Java.

Mobilitas dan individualismenya yang semakin tinggi kadang membuat gue berpikir apakah Bandung masih menjadi kota yang nyaman untuk ditinggali? Terlepas dari segala banyak perubahan beberapa tahun terakhir.

Kota yang tak lagi bisa dibilang aman tatkala mentari menjemput. Kota yang diliputi rasa khawatir apabila kau berjalan sendirian. Gue akui, Bandung semakin canggih dengan smart city nya, semakin cantik dengan tata kotanya, dan semakin maju menyaingi sang Metropolit bahkan lebih maju lagi. Tapi entah kenapa gue justru ingin menepi dari indahnya kisah Bandung yang pernah ada. Menepi bukan untuk pergi tapi untuk menenangkan. Ada apa dengan Bandung hari ini?


Kemarin gue nonton salah satu video di youtube. Mungkin kalian yang nonton juga, bakal tau video siapa yang gue maksud. Tapi gue bukan mau bahas itu video. Gue jadi kepikirin aja tentang hal ini dan emang udah lama kepikiran tapi belum tau judul apa yang tepat dan isinya mau ngomongin apa. Well, thanks to master against the world yang udah bikin gue jadi keidean.

Hmm gue gatau sejak kapan, tapi udah dari lama gue selalu ngebiasain diri buat baca berita atau knows what's happening today setiap pagi. Kalaupun ga di pagi hari, intinya gue suka sempetin baca berita atau apa yang lagi happening sekarang setiap harinya. Dulu si gue mikirnya biar nambah pengetahuan, ga dianggep kudet, dan biar sukses haha.

Dulu tu gue sempet dibilang kalo mau jadi orang sukses, ya harus ngelakuin kebiasaan-kebiasaan orang-orang sukses. Salah satunya dengan baca koran atau berita hehe. Seiring berjalannya waktu, gue bisa bilang banyak banget manfaat yang didapet selain yang gue sebut di atas. Ini menurut gue ya, bisa jadi lo ngerasain yang beda.
1.   Gue jadi lebih bisa melihat masalah atau suatu hal dari sudut pandang yang berbeda,
2.   Lebih aware sama dunia sekitar,
3.  Lebih kritis atau skeptis terhadap suatu hal, maksud skeptis di sini tu gue ga langsung masukin setiap informasi yang gue terima tapi lebih digali lagi entah dari sumber yang berbeda atau kadang gue cari secara scientific nya.
4.   Selain itu gue juga jadi lebih bijak, teliti, hati-hati, dan lebih bisa ngatur emosi. Karena setiap kita cari informasi, kita harus punya sikap terhadap info atau masalah tersebut. Mau diapakan info yang kita terima tersebut, mau diproses positifkah atau sebaliknya? Di sinilah bijak itu diperlukan. Teliti dan hati-hati dengan setiap berita yang kita baca. Because we are what we think. Salah satu yang mempengaruhi kita berpikir adalah sumber dari mana kita memasukkan info-info tersebut ke dalam otak. Maka itu kita harus teliti dan hati-hati ketika mencari sumber dan memasukkan info itu ke dalam otak, agar otak tidak salah dalam memahami dan memprosesnya.
5.  Attitude is important. Sikap itu diperlukan di mana pun. Salah satunya ketika mencari dan mencerna informasi yang didapat. Semua ada etikanya. Menyoal emosi, karena ketika gue baca, otomatis tergambarkan emosi atau reaksi yang harus dipilih terhadap hal tersebut. Apakah kita setuju, feeling well, apakah biasa aja, atau justru kesal tersulut emosi? Maka emosi menjadi poin penting untuk dikelola. Kek nya masih banyak manfaat yang secara ga sadar mungkin gue rasain juga. Kurang lebih gambarannya seperti itu.

Tapi sekarang gue kurang merasakan manfaat-manfaat di atas. Banyak artikel, berita, bahkan terkadang dari portal berita yang udah senior istilahnya, yang asal caplok. Isinya terkadang hanya seputar opini-opini penulis yang tidak diketahui kebenarannya. Isinya ga jauh beda sama laman sebelah cuma diubah kata-katanya. Diksi ga baku lah, kurang tepat lah, strukturnya ga jelas, dll. Gue prihatin kadang bacanya. Ini apaan? Penting yang kaya gini dijadiin bahan berita atau artikel? Emang harus ya sampe yang kaya gini harus semua orang tau? Gossip seputar selebrities. Gimana si berita yang bagus dan layak baca sebenernya? Perasaan dulu ga gini-gini amat. Jarang hampir ga pernah malah. Namanya aja gossip, kabar burung, yang kita gatau aslinya gimana. Dan lagian ngapain sih kita ngepoin hidup orang? Mending ngurusin hidup sendiri. Kita sendiri aja belum tentu ke urus. Ini malah ngurusin hidup orang hehe. Aneh si kenapa orang Indo itu kepo banget. Di pelihara lagi. Biarlah orang dengan kehidupannya dan kita dengan kehidupan kita. Lain lagi masalahnya kalau dia sendiri yang mengumbar kehidupan pribadinya. Kalau udah jenuh kadang gue suka lari ke berita global, yang menurut gue lebih menarik. Hehe. Tapi tetep aja gue gabisa lepas pandang dan ga merhatiin kedaan negeri tercinta ini.

Zaman berubah dan pelaku kehidupannya pun kian menyesuaikan. Sekarang orang mau jadi apa aja bisa. Banyak pekerjaan yang ga ada label dan namanya. Setiap perubahan dan gebrakan pasti selalu menghasilkan sisi positif dan negatifnya. Quotes umumnya sih, bagai dua sisi mata uang. Positifnya mungkin membuka banyak lapangan pekerjaan baru, menjadi wadah bagi mereka yang tertarik dengan dunia ke-jurnalis-an, memberi hak kepada siapa saja yang mau berkarya dan ingin maju, dsb. Sedangkan sisi negatifnya seperti yang gue bilang di atas, mungkin ada ketidaksiapan tersendiri dari masyarakat dalam menerima perubahan dan belum mature ataupun bijak dalam menyikapi banyak hal, terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan. Menebar benih lebih mudah daripada memperbaiki akibatnya. Mungkin inilah mengapa berita-berita sekarang bisa dibilang kurang bermutu dan kurang mendidik. Karena siapa aja bisa jadi writer dan boom langsung tersebar di dunia maya. Sehingga kurang tersaring dan kurang ter-edit. Karena bukan orang-orang yang memang ahli di bidangnya. Walaupun banyak orang-orang yang memang potensial mengambil ini sebagai side job mereka atau bahkan menjadi pekerjaan utama walaupun latar belakang pendidikan mereka bukan di bidang media dan jurnalistik.

Menurut gue kalau udah gini, balik lagi ke pribadi kita masing-masing. Mau posisi kita sebagai yang menulis ataupun netizen yang membaca kita harus sama-sama bijak dan berpikir, introspeksi diri, mana informasi yang layak untuk dijadikan bahan berita dan mana informasi yang layak untuk dibaca dijadikan bahan referensi. Untuk mereka yang masih berkeinginan untuk menulis, tulislah yang baik-baik, yang bisa memberi manfaat bagi dirinya dan orang banyak. Terus latih dan kembangkan keahlian dibidang kepenulisan, jurnalis, atau apalah itu sebutannya. Kurangi berita-berita yang tidak penting dan kurang mendidik, jangan hanya karena mengejar rating, menarik minat pembaca dengan judul yang wah tapi isi tidak sesuai atau bahkan biar viral aja. Berilah bacaan yang mengedukasi, agar rakyat kita pun semakin cerdas, bukan terbodohi.

Untuk mereka yang membaca, gue udah bilang kali ya di atas hehe. Bacalah yang baik-baik yang bisa memberi manfaat bukan yang justru memberi mudharat. Sama-sama jadi warga Indonesia yang bijak biar Indonesia kian tercerahkan dan tercerdaskan. Kalau gini terus mau dibawa ke mana Indonesia?

I don't even know if it's the right time to talk about money. Udah lama pengen nulis tentang ini tapi baru full keidean pengen nulis sekarang. Gatau kenapa rasanya gerah aja pengen ngeluarin uneg-uneg dan my perspektif about this thing that can make everyone jadi seseorang yang bisa ngelakuin apa aja karena doi punya duit. Atau sebaliknya rela ngelakuin apa aja demi duit? But, kalo kita pikir lagi, Is it really our money is ours? Think again. I don't think so.

Gue ga diposisi manapun. Tiap kali nulis ataupun bicara sebisa mungkin gue coba netral dan bijak dalam menyikapi dan menghadapi apapun. Jujur gue pun sekarang ga punya duit. Really? Apa iya orang-orang bakal percaya kalau gue bilang gitu? Orang-orang yang deket sama gue atau mereka 'temen seperjuangan gue' mungkin percaya. Hiks sedihnya emang begitu keadaannya. Tapi gue selalu tanemin dalam pikiran gue, kalau gue punya duit. Kenapa? Karena apapun yang kita pikirin itu bisa jadi kenyataan. Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam hati dan pikiran hamba-Nya. Dan meskipun itu baru sebersit aja terpikir, bisa jadi seketika Allah kabulin. Makanya gue selalu mikir entah aslinya ada atau ga, kalau gue punya duit. Hahaha orang suka recehin gue sih kadang. "Tapi kan bil, ga ada duitnya." Emang, kalem nanti juga bentar lagi ada. Pernah juga karena berasa punya duit di dompet, gue tenang-tenang aja. Eh taunya pas mau ngeluarin, dompetnya kosong melongpong gada isinya. Wkwkwk. Tapi gue ga pernah nyesel atau berhenti berbaik sangka atau berpikir positif. Allah sesuai prasangka hamba-Nya. And I'm definitely without any hesitate truly believe it. Lagian kan Allah juga yang jamin rezeki kita. Hehehe Jadi gausah khawatir asal kitanya terus berusaha dengan cara yang berkah dan halal pastinya. :B

Lah kebiasaan kalo mau ngomong sesuatu suka melipirnya jauh kemana-mana suka jadi hilang fokus mau ngomongin apa sebenernya. Haha. Ohiya inget, back to the topic guys. Iya kadang orang itu ga percaya kalau gue ngomong ga punya duit. Why? Because you look from the outside that my house look bigger? Really? But it's not my house. I still live with my parents. Itu juga rumah KPR. Masih jauh cicilannya. Is it because you look what I'm wearing? Really? Gue bahkan ga pernah pake merk-merk branded. Plis karena itu terlalu mahal. Liat harganya aja gue ga sanggup karena udah tau pasti ga sanggup beli. Bukan ga sanggup beli juga si, tapi milih ga beli. Kalau masih ada yang lebih murah tapi kualitas ga jauh beda, kenapa ga? Jadi duitnya bisa dialihin buat beli yang lain atau disimpen. Kalo liat gue pake merk-merk yang menurut lo itu lumayan, itu artinya gue cuma punya itu aja. Maksudnya? Kadang untuk barang-barang tertentu gue lebih milih kualitas dibanding harga. Walaupun tetep, pasti gue mertimbangin harga. Udah berapa kali lebaran, gue ga beli baju. Seriously. Baru lebaran kemarin gue beli baju lagi, itupun ga banyak cuma empat pieces baju 5* ribu an karena cuci gudang, ditambah gue beli bukan buat gue sendiri, tapi yang sekalian bisa pake buat ade sama kakak gue. Sekalian gue nambah baju buat kuliah ntar. Sekarang gue kalo pergi kemana-mana pasti pake baju itu-itu lagi. Cuma di tuker-tuker aja biar ga terlalu 'sama teuing' diliat orang. Sebenernya kalo gue sendiri sih, cuek selama gue nyaman, dan itu baju masih layak pake belum kekecilan, belum belel, belum bolong, masih nutup aurat, dll pasti masih gue pake. Gue ga pernah sama sekali beli baju di mall-mall. Kalo mau dibilang, level gue tu masih harga pasar baru bahkan kadang gue merasa itu masih kemahalan. Kings belum lama ini udah buka lagi walaupun belum keisi semua. Tapi kemarin, gue beli baju lebaran di situ. Dan gue rasa ini bakal jadi destinasi gue selanjutnya kalo beli baju. Masuk kantong banget. Bahkan jual gamis bagus ditambah sama innernya aja masih ada yang 11* ribu. Harga yang susah didapet zaman sekarang. Kadang gue juga ngerasa, budget gue kalo belanja dari dulu selalu sama, tapi kenapa makin ke sini, makin sedikit barang yang bisa gue beli dengan harga yang sama. Terus suka mikir, apa orang-orang makin kaya ya? Indonesia makin banyak orang kaya sekarang? Merk-merk mahal itu tetep bertahan karena ada pasarnya. Karena ada yang belinya kan? Tapi kenapa kasus kelaparan, kemiskinan, dll masih juga tinggi? Well, gue bingung.

Balik lagi. Haha. Is it because you look what I'm eating or where I'm visiting? Ini juga seharusnya bukan. Kalau lo beneran kenal gue, lo pasti tau jawabannya ga. Mana pernah gue nongkrong-nongkrong di kafe ga jelas, yang harga satu cangkir kopi biasa aja bisa nyampe 40 ribu? Gue si mending beli baju atau makanan bergizi. Mana pernah gue beli makanan yang untuk seporsi cuma nasi sama ayam biasa aja bisa nyampe 40 ribu? Mending makan di warteg atau warung pinggir jalan sekalian dah. Kalau pun pernah, alhamdulillah lagi ada rezekinya. Makan di McD atau KFC sekalipun, sekarang, gue merasa itu mewah. Mending bawa bekel dari rumah. Sehat dan lebih murah. Bahkan, untuk sekedar beli air bening pun gue enggan. Mending bawa minum dari rumah. See? Sekarang kalau gue pergi kemana-mana pasti selalu bawa minum dari rumah. Bahkan ke mall sekalipun. Kalau gue meeting atau ketemuan sama siapa ke, mall itu cuma tempat doang. Sisanya gue ga beli apa-apa. Akhir-akhir ini kalo pergi keluar, cuma ada ongkos dan lebihnya dikit. Bahkan beberapa hari kemarin, gue ga sempet sarapan dan ga sempet nyiapin bekel. Alhasil dari pagi itu gue nahan laper walau perut keroncong bunyi terus. Ongkos aja kurang, akhirnya gue harus jalan dulu lumayan, baru nyambung angkot lagi. Berat diongkos emang kalau naik angkutan umum. Tapi ya begitulah keadaannya. Gue baru makan malem, bada magrib itupun karena di traktir. Kalau lo tau dan liat gue pernah makan di tempat-tempat tertentu, itu tandanya gue lagi ada rezeki lebih dan hasil nyimpen beberapa hari sebelumnya. Itupun masih tempat level menengah. Yang maksimal ngeluarin 4* ribu, itupun udah semuanya ga ada tambahan lain. Pokoknya gue coba se-irit mungkin dan se-ekonomis mungkin ngeluarin duit.

Semuanya gue coba syukuri. Alhamdulillah masih bisa makan, masih bisa tidur nyaman, masih punya orang tua yang peduli, saudara-saudara, temen-temen, dan lingkungan yang baik. Orang ga akan tau dalemnya kita, apa yang kita alami dan apa yang pernah kita lalui sejauh ini. Yang mereka tau hanya yang nampak, itupun mereka gatau kisah dibaliknya. Gue juga gatau nyambung atau ga judul sama tulisan yang gue bikin. Cuma mungkin gue pengen curhat dan menuangkan apa yang gue pikir sekarang ini. Kenapa sekarang apa-apa soal uang? Uang, uang, uang, dan uang. Gue suka penasaran, ada ga sih orang yang dipikirannya cuma soal uang doang? Atau sebaliknya, yang dia aktif secara kegiatan, tapi secara keuangan dia ga punya? Gue rasa sih ada, tapi mungkin ga banyak. Sekarang apa-apa harus pake uang. Sampe sedih liatnya orang yang kerja mati-matian demi uang, yang ujung-ujungnya sakit juga karena over menggunakan fisiknya. Orang yang menghalalkan segala cara demi sesuap nasi. Atau orang yang dengan seenaknya menghambur-hamburkan uang untuk hal yang ga penting-penting amat. Karena dia merasa duit duit gue, bebas gue mau ngapain. Tapi benarkah? Bukankah sejatinya semua yang ada pada kita cuma titipan? Kita lahir ke dunia with nothing, meninggal juga with nothing. Lalu apa yang harus kita banggakan dengan harta yang hakikatnya bukan milik kita? Semua yang ada di dunia ini cuma titipan. Amanah yang harus kita jaga. Karena kita akan dimintai segala pertanggung jawabannya kelak.

Di sini kadang gue merasa bersyukur banget sama Allah dan bahagia karena merasa cukup. Gue justru khawatir, kalau gue diposisi yang punya uang banyak, apakah iya, gue bakal tetep prihatin sama orang dan jadi sosok gue sekarang ini? No one knows. Apa iya gue bakal ngegunain uang gue di jalan yang bener? Apakah gue terlena atau ga. Gue juga ga bisa jamin. Karena sungguh, kilaunya dunia itu membutakan. Mungkin inilah cara Allah menjaga dan mendidik gue. Meski dengan susah payah. Meski dengan menahan lapar. Meski kuliah dengan beasiswa atau kerja sampingan. Kitanya aja harus ikhlas. Semua itu butuh usaha dan perjuangan (doa mah udah pasti). Gue bakal terus berusaha untuk pendidikan dan kebermanfaatan. 

Masalah itu ga akan terselesaikan dengan kita mengeluh atau menyalahkan keadaan. Bahkan motivasi dan antusias aja ga cukup. We have to face, fight, and against it! Dan bersyukurnya banget, dari gue kecil, Ortu gue selalu ngajarin buat liat ke bawah. Bahwa masih banyak orang yg ga seberuntung kita dan lebih membutuhkan. Sedih juga ngeliat hidup yang kian teralihkan dengan keduniaan, hanya mencari harta dan kesenangan semata. Mencari rezeki yang udah Allah jamin kecukupannya dan melalaikan akhirat yang kita belum tau kepastiannya. Semoga Allah melindungi kita semua. Aamiin. Senantiasa memberikan hidayah dan taufik-Nya. Menunjukkan dan mengarahkan kita ke syurga-Nya. Aamiin..
Namaku Sabila Nur Fathiati, lahir di Bandung 18 tahun yang lalu. Tahun lalu aku lulus SMA dari salah satu SMA 'yang katanya bagus dan mungkin salah satu favorit' di kota kelahiranku. Berdasarkan pengalamanku tiga tahun sekolah di sana, aku tidak menampikkan hal tersebut. Ya bisa dibilang aku setuju dengan pernyataan tersebut. Walaupun tetap tiap sekolah pasti memiliki 'ceritanya masing-masing' yang tidak mengenakan di hati. Dan apa yang kita dengar dari orang-orang atau 'image' yang terbentuk di masyarakat tidak semuanya sesuai fakta di lapangan. Tapi dari situ aku bisa melihat sisi positif dan mengambil pelajaran darinya. Berarti sekolah itu telah berhasil memposisikan dirinya untuk selalu menjadi lebih baik. Dengan tirai dan tolak ukur yang tidak sengaja terbentuk di masyarakat membuat mereka enggan atau memilih untuk tidak melakukan hal yang tidak sesuai dan terus terpacu untuk menjadi lebih baik hingga terbentuklah ekspektasi publik bahwa mereka bisa dan layak diperhitungkan. Has someone who expect you more, make you brave and survive. Karena kalian ga mau ngecewain mereka. Pasti kalian akan terus berusaha dan berjuang untuk mencapai tujuan kalian dengan pressure yang ada.

Tapi mimpi dan impian tidak seindah kenyataan. Tidak lulus SBMPTN seolah menjadi momok menakutkan bagi para siswa kelas 12. Tidak keterima di perguruan tinggi negeri impiannya seolah menjadi hal paling memalukan bagi sebagian orang. Mereka merasa mereka telah gagal.

Ada beratus-ratus ribu orang yang mendaftar dan ingin menjadi bagian dari kampus-kampus favorit tersebut. Tapi, apakah iya tiap kampus memiliki kuota sebanyak itu? Ngga kan. Perbandingan jumlah pendafar dan daya tampung kampus pasti selalu tidak seimbang. Yaiyalah pasti dibatasi. Maka dari itu, percayalah dan yakinlah bahwa orang-orang yang diterima di kampus" itu orang pilihan. Orang yang Allah izinkan untuk mengemban amanah lebih dibandingkan orang lain. Semua seimbang kok. Ada negeri pasti ada swasta.

Aku tidak mengkatagorikan aku masuk kelompok mana, Because I'm here. In the middle. Jujur aku kecewa. Pasti. Itu manusiawi. Tapi I'm not that type of people yang lama dalam meratapi nasib. Yaudalah itu udh dilewatin, lanjut aja harus bangkit. Keep moving forward. Show must go on. Sebenernya aku ngerasa biasa aja begitu tau aku ga lolos jalur undangan. Karena udah feeling soalnya semester lima anjlok turun banget. Terus milihnya cuma satu pilihan lagi. Nekaad. Padahal orang" pada nyaranin solusi lain yang peluang aku lebih besar untuk lolos. But, I declined it. So, jadi ya itu udah pilihan aku. Karena tau SBMPTN itu susah dan aku sendiri ngerasa keteteran management waktunya, jadi ngerasa ga maksimal juga persiapannya. Pas lagi masa" intensif itu aku nothing tulus aja sih. Karena dari hasil" to jga bisa ke prediksi. Tapi bukan berarti aku ga optimis dan positive thinking. Cuma ya kayanya pikiran negatifnya dominan aja hehe.

Tadaaa. Maaf anda tidak diterima. Ngeliat tulisan itu awalnya biasa aja. Biasa feeling. Maapin aku ya Allah yang seringkali suudzon. Tapi begitu bilang ke mamah, entah kenapa haha baper jadi berkaca-kaca. Mulai deh pikiran ke mana-mana. Jadi we nangis beneran. Pengen ketawa sih sekarang kalo mengenang cerita itu. Karena budget terbatas, akhirnya aku cuma ikut tes Polban sama ITENAS. Polban ga lolos dan ITENAS keterima pilihan dua. Planologi. Ini juga sedih tapi ngakak. Aku ngundurin diri padahal udah keluar uang *****.

Ini juga sebenernya biasa aja. Yaudah terima kenyataan aku bakal kuliah di kampus ini. Tapi eeee ya dasar orang. Banyak dengerin dan nerima omongan orang. Masih inget sampe sekarang omongan tu bapak. Heuheu Ya Allah. Nyari beasiswa ceritanya. Eh bujubuneng susah amat ya nyari beasiswa swasta. Tapi sekarang sih udah lumayan banyak. Banyak nemunya yang luar negeri, akhirnya malah dijadiin alesan buat keluar. Dasar ya emang ni orang.

Singkat cerita, aku blm lolos apa". Ni buktinya masih nulis di sini wkwkwk. Gakan ada beresnya cerita aku mah. Too long and complicated lah haha. Nanti aja kalo lagi galau lagi bikin seri sepenggal kisah hidup selanjutnya yaa. Bye!