What's your dream? What you will be in the future? What major will you choose in university? Do you have a girlfriend or a boyfriend? At what age you will be married? How many children you want to have? etc. I don't know why people ask such questions. Until now. It's like a never ending question, isn't it? 

What makes me wonder is, do such questions just happen in my country or in other countries do the same things? Or is it just a tradition? Maybe. I don't know. But, what I found was maybe it depends on a person. Because some of my friends from different countries they're very welcome and don't mind if I ask questions above. Although I don't ask specifically.

I think it's not a problem to ask people such questions. But, what we have to underline is everyone has their boundary. If they're not comfortable when you ask about something, then stop it. Don't try to get answers forcefully. Be respectful. And absolutely don't ask in the first time you chat or you meet. People have many characteristics and we don't know which character we talk to. Ask the common question and ask for their permission if you want to ask something privacy.

These are the points. I still found most of people are through the border. In addition, these days, we can access everything on the in internet. It makes it easier for people to see a person's information and act like they know very well about that person. Whereas, they got that information through the internet or people saying. Sometimes, this is annoying, right? Come on guys let's stop it.

I'm not fully hated, but I think it's not funny when people are more hurt because of this kind of thing. Luckily it's not happened to me. No, actually I've experienced it. But, I back to my sense soon. Because I know, no one in this world knows more about me except me and God. Don't live in people expectations. Accept and love yourself. Everyone is unique. Everyone is special.

I'm very thankful for those kind of people. Because of them, I have a different paradigm and a different perspective to see the world and see life. Many people encounter the change of fundamental paradigm when they get a threatening mental crisis and suddenly see their priority on the other side or different ways. And yeay! That's what makes me try life in the opposite. I want to break through "the rules of life" and get out of my comfort zone. Explore more, learn more, and experience more so I can lift up myself to the next level becomes the best me.
Senin, 6 Maret 2017. 2.05 pm. Waktu gue nulis sekarang. Rasanya baru kemarin gue ga lolos SNMPTN. Rasanya baru kemarin gue lulus SMA. Rasanya baru kemarin gue ga lolos SBMPTN. Rasanya baru kemarin gue meratapi nasib. Rasanya baru kemarin gue ikut tes-tes masuk perguruan tinggi. Rasanya baru kemarin gue ngundurin diri dari ITENAS. Rasanya baru kemarin gue nekat ikut KGSP (Korean Government Scholarship Programee). Rasanya baru kemarin gue join banyak website untuk belajar Inggris gretongan. Rasanya baru kemarin gue ikut kursus TOEFL. Rasanya baru kemarin gue ikut OSC (Online Scholarship Competition). Rasanya baru kemarin gue nyoba lamar kerja dan ga keterima. Rasanya baru kemarin gue ter-ngeh-kan oleh zenius. Rasanya baru kemarin gue jadi serabutan worker di internet dan jadi member survey berbayar. Rasanya baru kemarin gue bikin-bikin video lyric untuk diupload. Rasanya baru kemarin gue bikin exploding box as birthday present sekalian bahan promosi jualan. Rasanya baru kemarin gue melihat dunia (lagi), melibatkan diri kembali setelah hampir lupa bagaimana menjadi manusia. Ikut GANIFA (Keluarga Alumni Ghifari), ikut Rubel (Rumah Belajar) Sahaja, ikut bergabung dalam sebuah brand, dan masih banyak anonim kegiatan yang ga gue sebutin. Intinya alhamdulilllah, ternyata gue menghiasi waktu untuk mengexplore dan mencoba banyak hal baru. Ga kosong-kosong amat, ga 'pengangguran-pengangguran' amat, ga geje-geje amat, seperti yang orang lain liat dan bilang ke gue. Well, gue udah kebal sama perkataan kek gitu dan justru berterima kasih sama orang-orang itu, karena udah care dan peduli sama diri gue, yang diam-diam terlibat dalam perubahan gue hingga saat ini. Dan gue bersyukur atas keadaan dan diri gue saat ini.


Gue bingung sama orang-orang yang hidupnya hanya mengomentari dan mengkritisi hidup orang lain, atau ngepoin hidup orang. Gue gasuka terlalu kepo dan mencampuri urusan orang lain. Buat apa? Ga bermanfaat, yang ada malah nambah dosa. Kenapa gue bilangnya 'terlalu kepo' karena kita harus (kepo) aware dan sadar tentang kondisi lingkungan sekitar kita tapi cukup, ga perlu berlebihan. Semua ada batas dan izinkan tiap-tiap orang punya privasi mereka sendiri. Karena segala sesuatu yang berlebihan itu memang tidak baik bukan? Allah said. Ga perlu juga gue pengumuman ke orang-orang tentang kegiatan gue, tentang pencapaian gue (kaya punya prestasi aja haha), tentang segala apapun yang gue lakuin. Buat apa? Sekali lagi ga perlu, yang ada malah nambah dosa. Takutnya malah jadi riya dan terlalu bangga akan diri sendiri. Naudzubillah. Tiap orang punya kelebihan dan spesialisasinya masing-masing. Gausah iri, syirik, ataupun dengki. Justru yang harus kita takutin adalah ketika kita tidak menggunakan potensi aqliyah, jasmaniah, dan ruhiyah yang udah Allah kasih dengan sebaik-baik dan sebenar-benarnya. Gue pun sama, nulis seperti ini bukan berarti udah baik, masiih jauh banget. Tapi ayo sama-sama kita saling mengingatkan dan memperbaiki diri. Sholeh/ah berjamaah.


Daripada sibuk ngurusin kehidupan orang lain dan terus merhatiin rumput tetangga yang selalu tampak hijau, lebih baik peduli sama diri sendiri dan coba tanam rumput itu sendiri. Kenapa rumput tetangga selalu tampak hijau? Karena dia menanam, merawat, menjaga rumput tersebut. Sedangkan kita? Kita hanya sibuk ngeliatin hijaunya rumput tetangga tanpa menanam dan ngerawat rumput kita sendiri. Sifat dasar manusia memang, selalu merasa kurang dan mengeluh. Tapi coba analisis, kenapa bisa muncul sifat kaya gitu? Bisa jadi karena kita tidak bersyukur dan tidak merasa cukup dengan apa yang kita punya. Bukankah ketika kita bersyukur, Allah bakal menambah nikmat kita? Ubahlah kata mengeluh itu menjadi meng-Allah. Menjadikan kebergantungan kepada Allah saja. "Allah-lah tempat bergantung segala sesuatu." (112:2). Jangan takut miskin, sedangkan kita adalah makhluk dari Dzat Yang Maha Kaya. Jaaa. Uang itu cuma alat pembayaran yang dibikin sama manusia doang. Walaupun emang, pada praktiknya itu sulit. Sulit untuk terus positive thinking dan berprasangka baik sama Allah. Tapi bismillah semua itu bisa diusahakan.

Haha flashback dan throwbacknya kejauhan dan jadi ngelebar ke mana-mana. Terlalu curcol. Oke gapapa, cukup sampai di sini kita balik lagi ke topik awal.

Kadang gue berpikir, bahkan sampai saat ini. Bener ga sih, sekarang waktu yang tepat buat gue coba-coba kaya gini? Tepat ga sih waktunya kalo sekarang gue malah sibuk sama hal-hal 'ga penting' kaya gini bukannya belajar mempersiapkan diri buat ikut SBMPTN lagi. Mencoba peruntungan lagi untuk kuliah di PTN. Bener ga sih apa yang gue lakuin? 'Penting ga penting' itu bergantung pada preferensi dan prioritas masing-masing. Cuek aja lagi. Kadang kita harus tutup telinga dan ga peduliin apa kata orang. Hehe  But, life is a mistery guys and will always be. Cuma Allah yang tau ke mana arah hidup akan dibawa. Semua Allah yang atur. Kita hanya perlu berusaha, doa, ikhtiar, dan tawakkal pada akhirnya. Yang pasti tetap tautkan hati kita hanya pada Allah. Selama yang kita lakuin bermanfaat dan dalam rangka beribadah kepada Allah, bismillah jalanin aja. Walaupun kita gatau akan seperti apa pada akhirnya. Tapi yakin Allah lebih tau mana yang terbaik buat hamba-Nya. Akan selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa. 

Ga kerasanya, sekarang tinggal H-70 SBMPTN 2017. Pengen nangis rasanya ngeliat persiapan gue. Tapi apalah daya. Banyak banget faktor x diluar kendali. Gue gatau bingung gimana mengekspresikannya, nano-nano rasanya. Tapi gue percaya dan yakin selama kita selalu berusaha sekuat-kuatnya, selalu berusaha melakukan yang terbaik dalam setiap hal yang kita lakuin, hal sekecil apapun, berdoa sebanyak-banyaknya, bantu Agama Allah, bantu orang lain yang membutuhkan bantuan, dan ambil kesempatan yang tersedia. InsyaAllah akan manis pada akhirnya.

Barang siapa yang menolong agama Allah, pasti Allah akan menolongnya. Soal yang membantu sesama, ibarat resonansi, ketika kita melakukan satu kebaikan, maka kebaikan lainnya akan mengikuti. Kalo kata buku magnet rezeki (kalo diizinkan kita bahas di tulisan terpisah), ibaratnya kita tinggal mengaktifkan energi kita di level dunia quantum dengan cara Allah.

Kuliah itu sama kaya sekolah, buat belajar buat cari ilmu. Kalo belajar bisa di mana aja, berarti kuliah juga bisa di mana aja. Institusi itu hanya salah satu wadah yang dibuat oleh manusia supaya lebih fokus, lebih jelas arahan belajarnya. Hadiahnya kita bisa dapet gelar. Gue bakal tetep berusaha untuk bisa kuliah di Institusi, tapi balik lagi pada Ridha Allah. Kalau memang pada akhirnya Allah tidak mengizinkan gue kuliah di Institusi ga masalah. Itu artinya gue memang harus kuliah kehidupan yang harus w cari kurikulum dan silabusnya sendiri. Lebih menarik dan menantang justru hehe. Kalo kata Prof. Rhenald Kasali, sukses itu It's all about mental.

Ya di waktu hidup yang ga banyak di dunia ini, yok ah kita sama-sama jadi manusia yang lebih baik lagi, yang selalu mengisi waktu dalam rangka beribadah kepada Allah. Tidak menyiakan-nyiakan waktu dengan hal-hal keburukan. Manfaatkan waktu yang kita punya saat ini. Keep Hamasah, guys!



Hampir satu bulan gue gabung sama komunitas anak jalanan. Gue bingung kalo dilabelin, apa sebutan yang cocok. Tapi gue lebih suka menyebutnya seperti itu. Rubel (Rumah Belajar) Sahaja namanya. Tak tahu pasti kapan perkumpulan atau organisasi atau komunitas ini ada. Menurut salah satu ‘dedengkot’nya atau mungkin tetuanya apalah sebutannya itu, perkumpulan itu sudah ada sejak tahun 2004 silam. Dan mulai ‘eksis’ dua tahun kemudian. Berarti sudah kurang lebih 13 tahun sejak komunitas ini berdiri.

Gue pribadi tahu komunitas ini sejak Oktober tahun lalu dari temen gue. Waktu itu gue lagi dalam proses melamar pekerjaan untuk pertama kalinya di salah satu perusahaan di Bandung. Setelah selesai interview, gue janjian dengan teman w yang juga bekerja di situ untuk makan siang bersama. Saat gue pamit hendak pulang, biasa kita menyocokkan jadwal untuk kita hangout bersama. Di situ dia bilang kalau dia aktif di komunitas Rubel Sahaja ini. Nah dari situ gue kepo tentang Rubel Sahaja ini. Gue searching lewat instagram, liat-liat dan cari tahu apa kegiatan mereka. Terus gue liat open recruitment (oprec) relawan baru sebulan yang lalu. Berarti kemungkinan dibuka lagi gatau kapan. Akhirnya gue nunggu dulu. And then,  yeay finally mereka oprec awal Februari kemarin. Langsung deh hari pertama setelah mereka posting, gue langsung isi form pendaftarannya. Terus pas besoknya, gue diajak sama temen gue itu untuk coba ikut (belum ada tindak lanjut dari oprec) itungannya gue baru berkunjung aja. Dan dari situ ternyata gue tahu kalau saat itu (Oktober) gue mau join juga  bisa. Jadi ga usah nunggu oprec yang baru dibuka tiga bulan kemudian. Gapapa lah itung-itung membulatkan tekad kalau gue bener-bener pengen gabung. Ya masuk secara resmi juga lah ya. Mungkin segitu aja throw back nya sampai gue join komunitas ini.

Sabtu, 4 Februari 2017 jadi hari bersejarah antara gue dan Rubel Sahaja. Diawali dengan jalan dari perempatan Rajawali sampai Pasar Ciroyom (karena diturunin mamang angkot, macet katanya, ya kami maklum Bandung kalau weekend memang lebih macet), menyapa mereka di jalanan (umumnya mereka adalah pengamen dan maaf rata-rata mereka yang ngamen itu ngelem (ngehisap lem aibon)), mendatangi rumah-rumah lusuh dan gubuk mereka di pinggir rel kereta, menyusuri pasar (dulu waktu gue SMP sama SMA paling males kalau angkotnya udah masuk pasar, bau soalnya, tapi sekarang malah 'bersahabat' ama ni pasar) lalu masuk ke dalam pasar dan tibalah kami di atap Pasar Ciroyom. Ya atap pasar inilah yang biasanya dijadikan tempat untuk berkumpul belajar bersama kakak-kakak Relawan Rubel Sahaja. Belum punya tempat sendiri memang, tak apa manfaatkan saja ruang yang ada. Hari itu kami kedatangan tamu kakak-kakak mahasiswa dari Teknik Pertambangan ITB. Salah satu program mereka dalam rangka pengabdian kepada masyarakat katanya. Kita ambil positifnya aja. Semoga tidak hanya sekali saat itu saja, tapi juga bisa berlajut di luar program itu sendiri. Keinginan sendiri. Panggilan hati lah istilahnya hehe. Ohiya di akhir kegiatan mereka juga memberikan bantuan seperangkat alat tulis. Buku, pensil, dsb.

Gue coba mengakrabkan diri dengan mereka. Dan mereka pun sebaliknya. Mungkin karena mereka terbiasa bertemu dengan orang baru dan terbiasa dengan kakak-kakak di rubel ini, akhirnya kebawa juga sifat mereka ke gue. Main toal-toel, gandeng tangan, kalo duduk berpangku siku, kalo kata di reality show Korea mah ‘skinship’, ya macem begitulah. Aneh buat gue yang ga biasa disentuh orang sembarangan. Tapi positifnya kami seolah dekat dan mempercepat ‘keakraban’ kami. Ya mungkin disitu mereka merasakan kehangatan, kasih sayang, dan dekat dengan kami.

Ritual selanjutnya begitu mereka sampai ke atap, harus mandi sekalian wudhu terus sholat Ashar. Setelah Sholat, baru kegiatan belajar dimulai. Matematika. Itulah pelajaran pertama yang harus gue ajarkan kepada mereka. Satu anak satu relawan. Walaupun kadang ga seperti itu, bebas gimana nyamannya anak aja. Tapi tetap diusahakan one to one. Tempatnya pun sama bebas. Gue kebagian megang Ivan. Cowok yang ternyata umurnya cuma satu tahun lebih muda daripada gue. 17 tahun. Wow! Aku speechless waktu itu. Aku kaya dapet tamparan besar. “How lucky you are to born and live among your family!” jadi keinget salah satu ayat, “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”. Huhu. Kami belajar macam-macam. Tapi inti pelajarannya belajar perkalian. Setelah kbm selesai, kegiatan selanjutnya adalah makan. Ada yang dimakan di tempat ada juga yang dibawa pulang. Sudah kegiatan berhenti di situ. Biasanya ada beberapa dari mereka yang ikut sholat Maghrib bersama kami.

Kami sendiri setelah kegiatan biasanya ada evaluasi. Gue kagok dan kikuk gitu karena newbie. Untung ada yang deket satu jadi ada pencair suasana. Setelah itu kami pergi ngopi di Kue Balok Kang Didin yang di Pajajaran itu lhoo yang enak dan legendaris hehe. Eval sambil merencanakan dan menentukan berita acara kegiatan selanjutnya. Dan emang rezeki anak sholehah, hari itu ternyata di traktir sama Kak Rimaa. Yeah tau aja kalau budget gue kecil haha (udah di itung sebelumnya kalau ke kue balok doang mah cukuplah duitnya). Btw, thanks a lot ya Kak jadinya duit w utuh. Intinya gue seneng hari itu. Pengalaman baru, tantangan baru, dan InsyaAllah ladang amal baru.
Gue tahu metode ini atau MBTI (Myers-Briggs Type Indicator) ini pas gue lagi bikin (ps) personal statement September kemarin. Ceritanya buat nambah amunisi. Haha sebenernya karena bingung deng. Walaupun kadang kata sebagian orang, aku itu tipe yang mengetahui keinginan diri, tapi sebenernya gue ga merasakan itu dalam diri gue. Gue bahkan masih bingung kalo ditanya orang gue itu orang yang kaya gimana. Mungkin kalau secara 'nama' karakter gue gatau, tapi kalo secara 'merasakan' bisa kali ya. Kaya ga ah, gue mah ga gitu atau iya sih, gue emang gitu orangnya. Tapi itu tu kaya refleksi omongan orang yang gue cocokin sama gue sendiri. Istilahnya harus disadarin atau dikasih tau orang lain dulu baru ngeh. Kata orang + pemahaman terhadap diri sendiri + refleksi sama orang lain. Jadinya waktu mau bikin ps, aku coba ikut-ikut tes kepribadian online gitu. Biar gratis ceritanya manfaatin wifi di rumah. Nah salah satunya tes MBTI ini.

Kadang gue bingung kalo ngisi yang ginian karena tiap lagi ngisi tu kaya udah tau, kalo ngisi ini nanti jawabannya ini, nanti kalo ngisi itu jawabannya itu. Berdasarkan pengalaman sih bener. Jadinya berasa perang batin. Satu sisi ingin jujur, tapi di lain sisi juga ingin memenangkan argumen diri. Jadinya bisa sampai berapa kali lakuin yang gini karena keraguan dan ketidakyakinan haha. Walaupun sama aja, kalo udah keluar hasil yang sama beberapa kali tetep percaya ga percaya. Mungkin karena anggepan awalnya suka mikir "sok tahu banget sih" atau karena kita ga mau ngakuin kelemahan atau gamau punya sifat yang kaya gitu. Maunya yang bagus-bagus aja. Maybe. Bisa juga mungkin karena dari sumber-sumber yang gue baca entah artikel, buku, blog, atau apapun tes kepribadian kaya gitu tu masih debatable. Standar atau metode pengukuran yang digunakan tiap ahli yang satu dengan yang lainnya masih beda atau tolak ukur yang dijadikan bahannya kadang masih diragukan atau ga valid, dan sebagainya. Faktor pengalaman, cakupan pengetahuan, dan tipe kepribadian ahli itu sendiri jadi pertimbangan. Jadi gue pribadi kalo udah ikut tes-tes macem gitu entah psikotes atau apapun, ga pernah saklek dijadiin patokan. Hanya dijadiin bahan referensi atau rujukan tambahan di samping goal atau planning gue sendiri. Delusional mungkin tapi gue percaya, dengan Allah apa aja mungkin. Jadi walaupun menurut kita udah usaha maksimal tapi Allah ga ridha atau belum ngijinin, tetep aja ga akan jadi. Tapi kadang ketika kita merasa belum maksimal tapi Allah mempercepat perizinannya, berhasil berhasil aja tuh. Tapi pasti Allah tahu, sejauh mana usaha yang udah kita lakuin. Ga ada hasil yang mengkhianati usaha. Semua dapat balasan atas perbuatannya masing-masing.

Sama halnya ketika gue ngisi tes ini. Gue ga cuma ngandelin satu sumber, tapi beberapa sumber. Coba jujur dan liat ke hati dan diri paling dalem. Aseek. Begitu keluar hasil yang pertama, pasti dong ga langsung percaya gitu aja, gue coba dulu sumber lain. Intinya pernah beda dan pernah juga sama. Dan itu pun ga dalam waktu yang berdekatan. Kadang lupa hasil terakhir pas mau mulai tes lagi. Ga berusaha nginget juga. Justru itu better daripada inget terus nanti pas ngisi kebayang-bayang terus secara ga sadar jadi berusaha nyocok-nyocokin.


Terus kemarin gue butuh bahan buat survey. Iseng coba-coba lagi tes MBTI ini di dua website berbeda. Satu versi Indonesia satu lagi versi Inggris. Dan hasilnya sama. Yaitu yang gue tulis jadi judul tulisan ini. ENTJ. Walaupun gue rada ga setuju sama E. Dibandingkan Ekstrovert, aku merasa orang yang dominan Introvertnya. Aku tipe yang masih betah di rumah dalam waktu yang lama. Walaupun ujung-ujungnya bosen dan pengen hangout juga. Ya kalo mau setengah-setengah juga jatohya ambivert. Ya wallahualam. Sekian.
Namaku Sabila Nur Fathiati, lahir di Bandung 18 tahun yang lalu. Tahun lalu aku lulus SMA dari salah satu SMA 'yang katanya bagus dan mungkin salah satu favorit' di kota kelahiranku. Berdasarkan pengalamanku tiga tahun sekolah di sana, aku tidak menampikkan hal tersebut. Ya bisa dibilang aku setuju dengan pernyataan tersebut. Walaupun tetap tiap sekolah pasti memiliki 'ceritanya masing-masing' yang tidak mengenakan di hati. Dan apa yang kita dengar dari orang-orang atau 'image' yang terbentuk di masyarakat tidak semuanya sesuai fakta di lapangan. Tapi dari situ aku bisa melihat sisi positif dan mengambil pelajaran darinya. Berarti sekolah itu telah berhasil memposisikan dirinya untuk selalu menjadi lebih baik. Dengan tirai dan tolak ukur yang tidak sengaja terbentuk di masyarakat membuat mereka enggan atau memilih untuk tidak melakukan hal yang tidak sesuai dan terus terpacu untuk menjadi lebih baik hingga terbentuklah ekspektasi publik bahwa mereka bisa dan layak diperhitungkan. Has someone who expect you more, make you brave and survive. Karena kalian ga mau ngecewain mereka. Pasti kalian akan terus berusaha dan berjuang untuk mencapai tujuan kalian dengan pressure yang ada.

Tapi mimpi dan impian tidak seindah kenyataan. Tidak lulus SBMPTN seolah menjadi momok menakutkan bagi para siswa kelas 12. Tidak keterima di perguruan tinggi negeri impiannya seolah menjadi hal paling memalukan bagi sebagian orang. Mereka merasa mereka telah gagal.

Ada beratus-ratus ribu orang yang mendaftar dan ingin menjadi bagian dari kampus-kampus favorit tersebut. Tapi, apakah iya tiap kampus memiliki kuota sebanyak itu? Ngga kan. Perbandingan jumlah pendafar dan daya tampung kampus pasti selalu tidak seimbang. Yaiyalah pasti dibatasi. Maka dari itu, percayalah dan yakinlah bahwa orang-orang yang diterima di kampus" itu orang pilihan. Orang yang Allah izinkan untuk mengemban amanah lebih dibandingkan orang lain. Semua seimbang kok. Ada negeri pasti ada swasta.

Aku tidak mengkatagorikan aku masuk kelompok mana, Because I'm here. In the middle. Jujur aku kecewa. Pasti. Itu manusiawi. Tapi I'm not that type of people yang lama dalam meratapi nasib. Yaudalah itu udh dilewatin, lanjut aja harus bangkit. Keep moving forward. Show must go on. Sebenernya aku ngerasa biasa aja begitu tau aku ga lolos jalur undangan. Karena udah feeling soalnya semester lima anjlok turun banget. Terus milihnya cuma satu pilihan lagi. Nekaad. Padahal orang" pada nyaranin solusi lain yang peluang aku lebih besar untuk lolos. But, I declined it. So, jadi ya itu udah pilihan aku. Karena tau SBMPTN itu susah dan aku sendiri ngerasa keteteran management waktunya, jadi ngerasa ga maksimal juga persiapannya. Pas lagi masa" intensif itu aku nothing tulus aja sih. Karena dari hasil" to jga bisa ke prediksi. Tapi bukan berarti aku ga optimis dan positive thinking. Cuma ya kayanya pikiran negatifnya dominan aja hehe.

Tadaaa. Maaf anda tidak diterima. Ngeliat tulisan itu awalnya biasa aja. Biasa feeling. Maapin aku ya Allah yang seringkali suudzon. Tapi begitu bilang ke mamah, entah kenapa haha baper jadi berkaca-kaca. Mulai deh pikiran ke mana-mana. Jadi we nangis beneran. Pengen ketawa sih sekarang kalo mengenang cerita itu. Karena budget terbatas, akhirnya aku cuma ikut tes Polban sama ITENAS. Polban ga lolos dan ITENAS keterima pilihan dua. Planologi. Ini juga sedih tapi ngakak. Aku ngundurin diri padahal udah keluar uang *****.

Ini juga sebenernya biasa aja. Yaudah terima kenyataan aku bakal kuliah di kampus ini. Tapi eeee ya dasar orang. Banyak dengerin dan nerima omongan orang. Masih inget sampe sekarang omongan tu bapak. Heuheu Ya Allah. Nyari beasiswa ceritanya. Eh bujubuneng susah amat ya nyari beasiswa swasta. Tapi sekarang sih udah lumayan banyak. Banyak nemunya yang luar negeri, akhirnya malah dijadiin alesan buat keluar. Dasar ya emang ni orang.

Singkat cerita, aku blm lolos apa". Ni buktinya masih nulis di sini wkwkwk. Gakan ada beresnya cerita aku mah. Too long and complicated lah haha. Nanti aja kalo lagi galau lagi bikin seri sepenggal kisah hidup selanjutnya yaa. Bye!